私のブログへようこそ

Minggu, 18 November 2012

ANAK BERKESULITAN BELAJAR


Pengertian
Istilah kesulitan belajar secara umum merupakan sebutan yang diperuntukan bagi anak maupun orang dewasa yang mengalami kesulitan belajar ataupun memiliki hambatan dalam belajarnya. Biasanya anak berkesulitan belajar mempunyai prestasi dibawah rerata kelompoknya sehingga mereka dipandang sebagai anak/orang dewasa yang low class dan bahkan diperkirakan tidak akan berhasil dalam belajarnya. Yang lebih parah banyak masyarakat yang menganggap anak berkesulitan belajar sebagai anak yang bodoh.
            Berkesulitan belajar merupakan salah satu penyebab adanya angka drop out di sekolah. Berkesulitan belajar yang dimaksudkan disini adalah semua anak atau siswa yang mengalami kesulitan dalam berprestasi, sehingga anak dimungkinkan akan tinggal kelas, atau bahkan drop out karena tidak mampu mengikuti pelajaran dikelasnya. Indikasi dari berkesulitan belajar ini tampak pada hasil laporan prestasi belajar siswa yang selalu ada di bawah batas kriteria kelulusan.
Anak –anak berkesulitan belajar memiliki ciri – ciri sebagai berikut:
1.      Gangguan pada aktifitas motorik
2.      Gangguan pada persepsi
3.      Gangguan pada atensi atau perhatian
4.      Gangguan pada ingatan
5.      Hambatan dalam orientasi ruang arah/spatial
6.      Hambatan dalam perkembangan bahasa
7.      Hambatan dalam pembentukan konsep
8.      Masalah perilaku
9.      Karakteristik Yang Ditemui Pada Anak Berkesulitan Belajar
10.  Memiliki sejarah kegagalan akademik berulang kali
11.  Hambatan fisik ataupun lingkungan berinteraksi dan kesulitan belajar
12.  Kelainan motivasional
13.  Kecemasan yang samar- samar
14.  Perilaku yang berubah ubah dan tidak dapat diduga
15.  Penilaian (label) yang keliru karena data tidak lengkap
16.  Pendidikan yang tidak memadahi dan kebutuhan anak
Sumber- Sumber Timbulnya Kesulitan Belajar :
Kesulitan belajar itu bersumber pada : Psikis, sosial psikologis, dan sosiologis
Yang bersumber pada psikis, kalau IQ yang rendah, biasanya dinyatakan sebagai anak slow learning (lambat belajar, karena IQ dibawah normal), atau border line (garis batas antara normal dan subnormal) yang IQ nya berkisar 80-89, dengan karakteristik sebagai beikut:
1.      Perhatiannya kurang
2.      Lambat mereaksi
3.      Kesanggupan yang terbatas untuk meninjau kembali bahan yang telah dipelajari.
4.      Terbatas kesanggupannya untuk bekerja dengan ha- hal yang abstrak.
5.      Waktu untuk belajar dan menangkap sesuatu lama, dan cepat melupakannya.
Yang bersumber pada sosial psikologis, yang mungkin digolongkan sebagai anak SCHOOL RETARDATION (keterlambatan keterbelakangan disekolah karena factor endogen eksogen) yang ciri-cirinya: bingung, agresif, tidak seimbang emosinya, dan kurang percaya pada diri sendiri. Hal ini mungkin disebabkan oleh cacat yang tidak kelihatan yang memerluan observasi secara teliti, sehingga mengalami keterbelakangan/keterlambatan di sekolah.
Sedangkan yang bersumber pada latar belakang sosiologis, umpamanya orang tua yang tidak merancang dengan baik, sikap orang tua yang selalu menekan dan lain sebagainya. Dalam beberapa hal anak yang mengalami kesulitan belajar yang bersumber dari segi sosial psikologis dan sosiologis itu dapat disebut kelaianan semu, kalau golongan itu mendapatkan perhatian masih dapat diharapkan perbaikannya sekurang-kurangnya prestasinya dapat ditingkatkan semaksimal mungkin.
Penyebab Kesulitan Belajar:
Sebab-sebab kesulitan belajar itu sifatnya tentative (ancer-ancer) karena sebab biasanya tidak ditentukan oleh suatu faktor tertentu secara pasti dan sulit kiranya bahwa suatu gejala disebabkan oleh factor tertentu. Oleh karena itu untuk menemukan sebab-sebab kesulitan belajar sebaiknya mengikuti pendapat William Burton dalam bukunya yang berjudul: The Guidance of Learning Activities, di mana faktor umum itu dibedakan menjadi  2 faktor yang terdapat dalam diri anak (factor endogen) dan faktor yang ada di luar anak (factor eksogen).
Sebab kesulitan belajar yang terdapat dalam diri anak dapat berupa : ketidakmampuan mental, keadaan fisik, emosi tidak seimbang dan kebiasaan-kebiasaan yang salah. Semuanya itu berkisar pada persoalan yang bersifat pribadi dalam arti struktur kepribadian anak dalam perkembangannya menjadi orang dewasa yang stabil dan bertanggung jawab.Bila seseorang anak pribdinya lemah, sering timbul kegoncangan dalam berbagai bentuk misalnya, cemas, merasa malas untuk belajar, enggan belajar, merasa dirinya rendah, sukar bergaul, lekas tersinggung dan lain-lainnya disamping adanya gejala penyakit jasmani.
Adapun faktor dari sifat pribadi itu banyak sekali misalnya keadaan ekonomi, lingkungan, konflik dengan orang tua sering terganggu kesehatannya, cacat tertentu yang mengganggu mereka dalam proses belajarnya. Keadaan-keadaan seperti ini sering menyebabkan konflik psikis dan kesulitan-kesulitan yang mengakibatkan mereka memerlukan bimbingan khusus dari ahlinya.
Sedangkan faktor kesulitan belajar yang berada diluar anak yaitu faktor yang berkisar pada rumah tangga atau keluarga anak, faktor yang bersumber pada sekolah (guru, kurikulum, teman sekolah, dan sebagainya), dan  faktor yang bersumber pada masyarakat atau lingkungan sosial.

Mengidentifikasi Anak Berkesulitan Belajar
Untuk memperoleh informasi yang lebih akurat tentang kesulitan belajar seorang anak/siswa. Maka, yang perlu kita lakukan adalah diagnose dan assessment yang dapat memahami masalah-masalah yang dihadapi siswa dan bagaimana cara menolong siswa tersebut dalam menghadapi masalah belajar. Untuk melakukan diagnosis dan identifikasi awal pada anak yang mengalami kesulitan belajar dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Mencatat anak-anak dengan berbagai indikasi antara lain :
·         Tugas/kegiatan akademisnya sering tidak selesai
·         Kwalitas pekerjaanya buruk (dibandingkan dengan teman sekelasnya).
·         Tidak ada motivasi belajar, sering absen disekolah.
2.      Melakukan pengamatan systematic terhadap masing-masing anak.
3.      Menggunakan alat/instrument seleksi (screening test).
4.      Testing psikomatrik, meliputi:
·         Asesmen potensi intelektual.
·         Asesmen hasil belajar/prestasi akademik.
·         Asesmen berbagai modalitas belajar.
Data atau informasi tentang kesulitan belajar dapat juga diperoleh melalui 4 cara:
1.      Case history - melalu interview
2.      Obserasi
3.      Informal testing
4.      Formal standard test.
Dalam pelaksanan diatas tidak terpisahkan tetapi saling menyempurnakan. Dibawah ini akan diperkenalkan beberapa bentuk kesulitan belajar persepsi, yang dapat digunakan pula untuk membuat tes informal dalam usaha mengenali adanya hambatan dalam persepsi visual seorang anak.


1.      Diskriminasi Visual
Dapat berbentuk kurang dapat melihat :
·         Adanya perbedaan bentuk yang kiri dan kanan. (mempertukarkan) misalnya: b-d;p-q
·         Atas dan bawah (membalikan) misalnya: n-u;m-w

2.      Bentuk dan Latar (figure dan ground).
Adalah kemampuan seseorang untuk memusatkan perhatian terhadap stimulus yang diberi, sementara stimulus yang lain juga ada. Gejala-gejala yang ditunjukan berupa hambatan dalam:
·         Memusatkan pada detail, misalnya memusatkan pada satu gambar yang terdiri dari barbagai gambar.
·         Memisahkan bagian pokok dan latar belakang.
            Tampak bingung atau kacau dalam menghadapi tugas-tugas.,bila disekelilingnya ada gerakan misalnya :pada waktu anak belajar di suatu ruangan, tiba-tiba ada anak lain masuk, Ia tidak bisa lagi memusatkan pada apa yang tadi mereka pelajari.
·         Melihat gambar dan tidak dapat menangkap tema sentralnya karena perhatiannya tertuju pada detil-detil kecil yang  lain.

3.      Asosiasi Visual dan “Closure”
            Yang terhambat berbentuk :
·         Ada yang dapat bercerita secara verbal, tapi tidak dapat menuliskannya, walaupun mereka tahu bagaimana mengeja kata-katanya.

4.      Ingatan Visual
Baik jangka pendek, maupun jangka panjang, berupa ketidakmampuan untuk:
·         Menceritakan urutan gambar, ejaan dari kata.
·         Mengingat kembali posisi,letak,atau arah.
·         Mengingat stimulus visual, warna, bentuk terutama bila terjadi perubahan ukuran, detail, posisi dan lain-lain.

5.      Visual Constancy.
·         Mengalami kesuliatan memahami bahwa benda tampak kecil bila jaraknya semakin jauh dari pengamatan visual.
·         Mengalami kesulitan melihat gambar berdimensi.
Dampak dari Kesulitan Belajar Terhadap :
a.       Segi Psikologik.
Masalah-masalah yang sering kali muncul seperti diuraikan sebelumnya adalah masalah-masalah penggunaan bahasa lisan/tertulis dan masalah dalam mendengarkan, berfikir, membaca, mengeja matematik, penekanan pada reaksi.
Sedangkan masalah motorik dihubungkan dengan kondisi seperti koordinasi motorik yang buruk,gerakan ceroboh. Hal seperti ini (kerusakan otak) yang mempengaruhi berbagai fungsi belajarnya.
b.      Segi Sosial Emosional.
Yang paling sering dikemukakan tetang anak berkesulitan belajar adalah ketidakstabilan emosi dan empulsifitas. Emosi yang labil ditandai dengan seringnya terjadi perubahan-perubahan yang menyolok dalam suasana hati dan temperamen. Pada beberapa anak ada kemungkinan untuk tiba-tiba menyerang orang lain tanpa ada provokasi sebelumnya atau tiba-tiba berdiam diri pada waktu yang tidak sepantasnya.
c.       Segi pendidikan.
Kesulitan belajar terjadi pada masa pra sekolah sebaiknya perlu segera ditangani, karena jika tidak segera diatasi maka akan berpengaruh pada masa selanjutnya. Kegagalan akademik yang berulang-ulang dan bahkan tuntutan kurikulum sekolahpun dapat menyebabkan seorang siswa tidak mampu mengikuti pendidikan dengan lancar.
Usaha-usaha Pencegahan
Sebenarnya kesulitan belajar dapat di cegah misalnya peranan seorang guru. Peranan guru dalam hal ini 2 macam, yaitu menyembuhkan bagi anak yang sedang menderita kesulitan belajar dan mencegah agar tidak menular kepada teman lainnya. Peranan ini dapat dipermudah bila menggunakan teknik/ alat tertentu.
Teknik / alat itu diantaranya:
·         Observasi untuk dapat memperoleh cara anak bekerja, ketelitiannya, ketekunannya, kerapian, kebiasaan hubungannya dengan teman-teman.
·         Angket yang berhubungan dengan diri anak, misalnya cara belajarnya, minatnya, keadaan kesehatannya kesulitan yang dihadapi keadaan disekitarnya dan sebagainya.
·         Wawancara untuk menunjukkan kesalahan yang telah dilakukan anak bersama menentukan langkah yang harus dilakukan anak sehingga mempunyai kepercayaan dirinya.
·         Meneliti hasil pekerjaan/ulangan, untuk mengetahui aspek-aspek yang kurang mengenai pengetahuannya, cara membuat pekerjaan, cara menyusun pikiran, ketelitian, pengetahuan bahasa dan kerapiannya.
·         Tugas kelompok untuk dapat melihat penguasaan bidang studi dan pengetahuan anak di kelas. Hal ini akan tampak dalam cara menyelesaikan tugas.
·         Pengguanaan buku rapor sejak ia masuk sekolah, terutama saran guru sebelumnya.
·         Kunjungan rumah untuk melengkapi dan mengecek keterangan-keterangan di sekolah.
·         Tes psikis, ini merupakan cara khusus untuk mencegah dan menyembuhkan kesulitan belajar yang diderita oleh si anak.
Pendidikan untuk Anak Berkesulitan Belajar
Kebanyaakan anak berkesulitan belajar tergolong anak yang normal dalam segi fisiknya, mereka tidak memerlukan sekolah khusus atau sekolah luar biasa. Mereka dapat belajar disekolah biasa atau sekolah reguler bersama anak lain yang tidak berkesuliatan belajar. Meskipun demikian, anak berkesulitan belajar memerlukan pelayanan khusus atau pendidikan luar biasa. Adapun pelayanan pendidikan luar biasa bagi anak berkesulitan belajar.
            Menurut Lerner (1988:141) pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dibagi menjadi tiga system penempatan yang banyak dipilih oleh sekolah, yaitu kelas khusus (special class), ruang sumber (resource room), dan kelas regular (regular class). Menurut Lerner, 20% anak berkesulitan belajar di Amerika serikat memperoleh pelayan dikelas khusus, 62% diruang sumber dan 15% dikelas regular.
1.         Kelas Khusus
Dalam kelas khusus anak berkesulitan belajar sepanjang hari diajar oleh guru khusus.Sebagian besar dari waktu yang digunakan di dalam kelas khusus jenis ini umunya untuk pelajaran membaca, menulis, berhitung dan kadang-kadang juga tetang ketrampian dan aspek-aspek khusus dalam bahasa.Sekolah yang menyelenggarakan kelas khusus biasanya menempatkan 10 atau 20 anak berkesulitan belajar dalam satu kelas.
2.         Ruang Sumber
Ruang sumber merupakan ruang yang disediakan oleh sekolah untuk memberikan pelayanan khusus bagi anak berkesulitan belajar. Di dalam ruang tersebut terdapat guru remedial dan berbagai media belajar. Aktivitas di dalam ruang sumber umumnya berkosentrasi pada upaya memperbaiki ketrampilan dasar seperti membaca, menulis dan berhitung. Guru remidial atau guru sumber dituntut untuk menguasai bidang keahlian yang berkenaan dengan  pendidikan bagi anak berkesulitan belajar.

Kelas Regular
Kelas regular dimaksudkan untuk mengubah citra tentang adanya 2 tipe anak, yaitu anak yang berkesulitan belajar dan anak yang tidak berkesulitan belajar. Dalam kelas regular yang dirancang untuk membantu anak berkesulitan belajar diciptakan suasana belajar yang koperatif. Sehingga baik anak yang berkesulitan belajr maupun yang tidak berkesulitan belajar,dapat menjalin kerjasama untuk mencapai tujuan belajar.
Pada dasarnya anak dengan kesulitan belajar dikarenakan oleh dua hal yaitu dikarenakan cacat fisik tertentu dan kesukaran belajar karena memiliki masalah kemampuan belajarnya atau masalah akademiknya bahkan ada dua pandangan mengenai anak berkesulitan belajar:
Seperti halnya ahli medis yang menganggap bahwa kesulitan belajar disebabkan oleh kerusakan fungsi otak. Dan untuk menanganinya atau merawat anak tersebut melalui obat untuk mengurangi tingkat kesulitan belajar dan gangguan yang diakibatkannya. Misalnya dengan menggunakan obat atau vitamin.
Sedangkan Psikolog dan ahli-ahli pendidikan menganggap anak berkesulitan belajar disebabkan oleh adanya deficit dalam keterampilan perceptual motorik akan mencari bentuk-bentuk bantuan yang dapat meningkatkan fungsi peseptual motorik. Bila penyebabnya diduga karena kekurangan di bidang akademik akan meningkatkan kemampuan dalam bidang yang dianggap kurang. Misalnya dengan cara memodifikasi perilaku, latihan pengamatan dan lain sebagainya.
Dengan perkataan lain setelah kita menentukan diagnosa dari hambatan yang terjadi pada seorang anak maka bentuk penanggulangannya bisa berupa :
1.      Remedial
2.      Tutuoring
3.      Kompensasi
Apabila anak berkesulitan belajar yang dikarenakan masalah pengelihatan dan pendengarannya kurang, yang harus kita lakukan adalah anak tersebut didudukan di bagian depan kelas, serta diberikan petunjuk secara tertulis dan lisan untuk semua tugas yang diberikan (di papan tulis, kalender, atau rencana pengajaran).
Bagi anak yang mengalami masalah auditif/pendengaran saja dapat digunakan alat-alat pengajaran visual. Seperti peta, slide, grafik, atau gambar-gambar dalam ceramah.
Sedangkan anak-anak yang mengalami masalah visual dan visual motor, sebaiknya dianjurkan untuk menggunakan tape pada saat ceramah, diskusi dan mendengarkan petunjuk-petunjuk lain. Berikan tugas-tugas tertulis yang pendek, yang memiliki variasi dalam model, demonstrasi, diagram, slide dan penyajian lisan.
Pada kenyatannya, kita sering mendengar saat ini banyak anak anak yang mengalami kesulitan belajar yang disebabkan oleh kenakalan si anak.Memang kenakalan anak ada hubungannya dengan kesulitan belajar. Dalam kegiatan belajar perlu anak menyesuaikan sikap dan tingkah lakunya dengan situasi proses belajar mengajar. Contohnya saja, di dalam proses belajar mengajar sangat  diperlukan ketenangan. Tetapi kalau sang anak berturut dalam kelas pada waktu pelajaran, sehingga membuat suasana menjadi ribut.perbuatan seperti itu sudah termasuk kenakalan anak, akibatnya anak tersebut tidak bisa memahami materi yang diberikan pengajar dengan baik karena hasil ulah kenakalannya.
Bahkan para ahli pernah melakukan penyelidikan,hasilnya lebih dari 50% anak nakal adalah anak yang mengalami kesulitan belajar (learning desabilities). Sedangkan di perancis terdapat 75% anak nakal yang sampai melanggar hukum adalah mereka yang mengalami kesulitan dalam belajarnya. Sebenarnya bukan anak nakal saja yang sering mengalami kesu;litan belajar bahkan anak cerdaspun bisa mengalami kesulitan belajar yang berupa penyesuaian diri (problem emosi). Secara intelektual anak cerdas memiliki IQ di atas 130, tetapi dengan kondisi itulah anak cerdas atau berbakat mempunyai problem emosi seperti frustasi, dianggap trouble maker karena tingkah lakunya yang berbeda dengan anak normal lainnya dan kecepatan mengerjakan tugas yang lebih cepat dari anak normal lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar